Next Post
IMG-20221224-WA0012
IMG-20221112-WA0007
https://www.kabarpost.com/wp-content/uploads/2021/08/cropped-logo-kabarpost.jpg

Kenali Hoaks Jelang Pemilu dan Tips tak Termakan Hoaks

Pemilu
Pemilu

 

PERLEHATAN ataupun kontestasi politik tidak lama lagi bahkan bisa dikatakan sudah di depan mata. Tahun 2024 kita akan diperhadapkan dengan pemilihan legislatif baik tingkat kabupaten hingga ke tinggkat DPR RI bahkan ditahun 2024 juga akan dilksakan pemilihan Bupati,Gubernur, hingga pemilihan Presiden Republik Indonesia.

Tak bisa dipungkiri, hampir setiap hajatan rakyat tersebut Berita bohong atau Hoax bisa dipastikan berseliweran tak terbendung. hoax tersebut juga berbagai macam Hoax terkait agama,ras,politik,sosial dan ada masih banyak lagi yang kemudian berita bohong tersebut sengaja dibuat untuk menyerang pribadi ataupun kelompok.

Seperti biasanya, Hoax disebarkan melalui media sosial WhatApss, Facebook, Instagram, Twiter,Tik-tok. Tentu ini menjadi tanggung jawab kita semua, mulai dari pemerintah hingga ke masyarakat.

Dilansir dari Detik.news ada banyak konten hoax terkait Pemilu 2019 diidentifikasi oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kementerian Kominfo) selama Agustus-Desember 2018. Hoax paling banyak teridentifikasi pada Desember 2018.

Plt Kepala Biro Humas Kementerian Kominfo Ferdinandus Setu mengatakan hasil ini berdasarkan penelusuran dengan menggunakan mesin AIS oleh Subdirektorat Pengendalian Konten Internet Direktorat Pengendalian Ditjen Aplikasi Informatika.
Hoaks yang muncul bulan agustus hingga desember tahun 2018 diantaranya:

 

1- Puan “Jika Negara Ingin Maju dan berkembang, Pendidikan Agama Islam harus dihapus”

2- Haleluya…. mari kita bersholawat kepada Nabi… (Dasar kamprettt..!!!)

3- Pelaku bom bunuh diri di Surabaya masih hidup dan dukung 2019 ganti presiden

4- KH Ma’ruf Amin Mencium Pipi Wanita Bukan Muhrim

5- Ancaman Pembunuhan pada Anggota KPU Jika Tak Menangkan Jokowi di Pilpres 2019

Dilansir dari Kompas.com Sebuah post di media sosial menulis bahwa anggota KPU diancam dibunuh jika tidak memenangkan petahana Presiden Joko Widodo dalam Pilpres 2019.

 

Dalam unggahan itu yang disertai foto itu juga disebutkan bahwa Bupati Fakfak di Papua Barat meninggal dengan cara diracun karena berniat membongkar kasus korupsi.

Unggahan itu juga menyinggung mengenai meninggalnya mantan Ketua KPU Husni Kamil Manik pada 7 Juli 2016. Menurut pengunggah, Husni meninggal karena diracun setelah berupaya membongkar skandal Pemilu 2014.
Namun, pihak Kepolisian RI atau Polri mengklarifikasi informasi yang beredar itu sebagai kabar bohong atau hoaks.

Kenyataannya, Khusni Kamil meninggal karena penyakit yang dia derita. Dan saat itu juga pihak kepolisian mengatakan bahwa tidak ada laporan terkait pembunuhan Bupati fak-fak.

Dalam upaya menangkal berita hoaks agar tidak terjadi lagi menjelang pemilu 2024, tak tanggung-tanggung Cekfakta.com kolaborasi dengan Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI), Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo), dan 24 perusahaan media di Indonesia. Semua bersinergi dalam upaya menangkal berbagai berita bohong alias hoax menjelang Pemilu 2024.

Sekretaris Jenderal AJI Indonesia Ika Ningtyas menyebut serangan digital terhadap pemeriksa fakta dan jurnalis belakangan semakin marak gara-gara hoax. Terlebih saat ini situasi politik Tanah Air yang sudah terpolarisasi karena sudah ada beberapa kandidat sudah mendeklarasikan diri untuk maju di Pemilu 2024.

“Nah, ini tentunya membutuhkan penguatan-penguatan kolaborasi dan perluasan kolaborasi kalau mungkin sampai tahun ini 24 media yang bergabung, kita kolaborasi ke depannya dengan kawan-kawan media, terutama dengan kawan-kawan media lokal, karena untuk menyambut pemilu secara serentak baik daerah maupun presiden,” kata Ika dalam konferensi pers virtual dengan tema ‘Kolaborasi Menangkal Hoaks Menjelang Pemilu 2024’, Kamis (17/2/2022).

Saat ini, kebanyakan pengguna media sosial menggunakan whatsApp sebagai media komunikasi yang paling laris. Tak heran jika ada beberapa berita hoax yang kita temui. Dan tentunya ini berkonsekuensi hukum bagi penyebarnya.

Bahkan Peneliti Network for Indonesian Democratic Society (Netfid), Aida Mardatillah memprediksi, penyebaran hoaks dan ujaran kebencian akan mengalami peningkatan menjelang pemilihan umum (Pemilu).

 

“Menjelang pesta demokrasi lima tahunan itu makin marak,” ujar Aida dilansir Antara, Kamis (25/8/2022). Dilansir Liputan6.com

lanjutnya, konten yang marak muncul jelang Pemilu adalah cyber bullying dalam bentuk hoaks kategori satir.

“Dengan menggunakan konten politik yang cenderung berisi konten menyerang tokoh politik atau saling serang antar pendukung partai politik,” UcapAida.
Salah satu contoh, pada proses jelang Pemilu 2019 lalu, muncul banyak hoaks yang ditujukan bagi golongan-golongan tertentu yang mengikuti kontestasi politik.

“Kominfo pun menemukan lebih dari seribu informasi hoaks di media sosial dengan konten kampanye hitam menjelang Pemilu 2019, berarti dalam prosesnya, bukan pada kontestasi dalam pelaksanaannya,” tutur dia.

Dilansir dari cekfakta.com, Sekretaris AMSI, Wahyu Dyatmika menilai masyarakat akan menghadapi tantangan lebih berat yang berkaitan dengan hoax menjelang Pemilu 2024. Oleh karena itu, kata dia, untuk pemilu mendatang pihaknya harus berusaha membuat gerakan menangkal hoax lebih inklusif menjaring para stakeholder hingga ke akar rumput.

“Ini juga masukan punya bahasa sendiri, punya idiom-idiom sendiri. Mungkin mereka nggak ngerti apa itu hoax, apa itu misinformasi, definisinya mungkin sama tapi penyebutannya berbeda. Nah untuk tahu penyebutannya yang tepat kita harus merangkul semua elemen ini dan memastikan artikel cek fakta diterjemahkan dalam bahasa dan format yang dipahami,” imbuhnya.

 

(Tim Kp)

Admin

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Newsletter

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.

banner

Recent News

themediagrid.com, J8FXQA, DIRECT, 35d5010d7789b49d
google.com, pub-8668870452462831, DIRECT, f08c47fec0942fa0