Next Post
https://www.kabarpost.com/wp-content/uploads/2021/08/cropped-logo-kabarpost.jpg

Bedah Buku Jurnalis Melintasi Zaman

IMG-20210930-WA0013

 

MANADO Kabarpost.com – Menjelajah budaya, sejarah, dan agama yang berada di Bumi Nyiur Melambai cukup dengan membaca buku saja. Ya, buku karya jurnalis kawakan Sulut, Yoseph E Ikanubun banyak mengulas beragam budaya, sejarah dan agama di Sulut yang berjudul ‘Jurnalis Melintasi Zaman’.

Dalam bedah buku yang digagas Komunitas Marijo Belajar (MJB) Sulut yang menggandeng Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Sulut banyak mengulik isi buku tersebut di Kantor AMSI Sulut, Jalan Elang Raya 3, Kecamatan Malalayang, Kamis (30/9/2021).

Dr Ivan Kaunang SS MHum, Ketua Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) menanggapi kekurangan dan kelebihan buku yang ditulis tiga tahun lalu tersebut. “Penulis mampu mengemas dengan sederhana berbagai peristiwa dari barbagai zaman di daerah ini. Namun secara akademik, buku ini kurang daftar pustakanya,” ulas dosen yang menyelesaikan S3-nya di Fakultas Udayana Denpasar Bali ini.

Sementara itu, Ketua AMSI Sulut, Agus Hari, yang juga merupakan panelis mengungkapkan, sangatlah jarang ditemukannya buku-buku yang memuat kondisi Sulut yang ditulis oleh jurnalis lokal. “Kalau membaca buku dari filsuf atau sejarawan itu akan pusing karena susah bahasanya. Tetapi kalau bahasa jurnalis pasti akan lebih sederhana dan gampang dicernah pembaca,” ungkap Pemred Barta1.com di hadapan peserta diskusi.

Buku yang terdiri lebih dari 100 halaman ini menyusuri sejumlah daerah di Sulut dan menceritakan kondisi budaya, sejarah dan agama yang ada. Yoseph E Ikanubun) mengatakan, buku yang ditulisnya sangat ringan, sehingga pembaca bisa mempelajari suatu isu dengan sebuah cerita. “Tulisan ini dapat dibaca bukan hanya dari orang-orang ilmiah, tapi bahkan sampai pada orang-orang di kampung,” kata jurnalis Liputan6.com ini.

Saat memasuki sesi tanya-jawab, Farid Mamonto membukanya dengan membeberkan hal kritis, dengan mengangkat bagaimana media kurang mengangkat isu-isu soal akar rumput soal penggusuran, dan perampasan hak. “Saya pikir dalam hal sejarah, budaya, agama, lingkungan, agraria, dan sebagainya di Sulut itu sangat darurat, tetapi tidak mendapat tempat di media,” beber aktifis PMII Metro Manado dengan diikuti pertanyaan kendala apa ditemui penulis di lapangan.

Yoseph menjawab berbagai kendala di lapangan. “Paling utama sebenarnya ada pada narasumber yang cukup sulit dan literatur-literatur pendukung, atau referensi yang perlu di gali dalam penelitian ini,” jawabnya. Berbagai pertanyan yang layangkan para peserta, dan dijawab dengan begitu rinci. Diskusi tersebut berakhir dengan penyerahan buku kepada Ketua MJB Sulut Jesika Tarima dan peserta yang aktif. “Pentingnya kesadaran melestarikan sejarah dan budaya di Sulut. Dengan bantuan jurnalis yang memuat di media massa mengenai hal ini perlu apresiasi, dan dukungan dari kita agar keunikan ragam sejarah dan budaya di Sulut semakin terekspos,” ujar Tarima sembari memegang buku yang baru diserahkan.

Turut hadir selain pengurus AMSI Sulut, juga dua kader PMII Metro IAIN Manado, DPC GMNI Manado, Ketua Komda PMKRI Sulut Stefanus Goni, dan 11 anggota MJB Sulut.

 

(Ay)

Admin

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Newsletter

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.

banner

Recent News

themediagrid.com, J8FXQA, DIRECT, 35d5010d7789b49d
google.com, pub-8668870452462831, DIRECT, f08c47fec0942fa0
google.com, pub-8668870452462831, DIRECT, f08c47fec0942fa0